Rabu, 11 Mei 2016

Kodim Tegal Amankan Buku-Buku Berbau Komunisme


Kodim Tegal Amankan Buku-Buku Berbau Komunisme



TEGAL - Kodim 0712 Tegal, Jawa Tengah mengamankan puluhan buku di pameran buku murah yang digelar di sebuah mal di Kota Tegal. Buku-buku tersebut diamankan, karena dianggap bisa menyebarkan paham komunis.
Terdapat lima judul buku yang diamankan, yaitu Siapa Dalang G30S? Fakta dan Rekayasa G30S Menurut Kesaksian Para Pelaku, Komunisme ala Aidit (kisah PKI di bawah kepemimpinan D. N. Aidit 1950-1965), Siapa yang Memanfaatkan Letkol Untung? (Menguak Konspirasi Gerakan 30 September), dan Kabut G30S Menguak Peran CIA, M16 dan KGB; The Missing Link G30S misteri Sjam Kamaruzzaman dan biro Chusus PKI.
Buku-buku tersebut dijual dengan harga bervariasi, mulai Rp15 ribu sampai RP40 ribu. Adapun jumlah buku yang dibawa mencapai 90 eksemplar. Buku-buku ini dibawa ke Markas Kodim 0712 Tegal.
Komandan Kodim 0712 Tegal, Letkol (Inf) Hari Santoso mengatakan, ‎buku tersebut diamankan setelah pihaknya mendapat laporan dari masyarakat terkait keberadaan buku yang membahas PKI di sebuah pameran buku.
"Ada informasi dari masyarakat terkait keberadaan buku-buku yang mengarah pada penyebaran ideologi PKI, jadi kami datangi dan kami minta tidak dijual. Beberapa sampel buku juga kami beli untuk kami pelajari isinya," kata Hari, Rabu (11/5/2016).
Menurut Hari, meski tak disebutkan secara jelas, isi buku-buku yang diamankan tersebut mengarahkan bahwa PKI tidak bersalah. Selain itu ada juga isi buku yang menyebut jika Gerakan 30 September (G30S) merupakan kudeta yang dilakukan TNI.
"Isi buku mengarahkan pemahaman kalau tentara itu melakukan kudeta, kemudian ada Dewan Jenderal. Padahal itu tidak benar.‎ Tentara tidak mungkin dan tidak akan melakukan kudeta. Di buku juga mengarahkan komunis tidak bersalah. Padahal kita tahu, kekejaman PKI seperti apa," ujarnya.
Hari menyebut, langkah mengamankan‎ buku tersebut sebagai pencegahan agar masyarakat, khususnya anak muda tidak terpengaruh dengan paham komunis. Apalagi PKI dan penyebaran paham komunis masih dilarang di Indonesia, berdasarkan Tap MPR XXV tahun 1966 dan UU Nomor 27 tahun 1999.
"Langkah selanjutnya, kami koordinasi dengan Polres untuk didalami. Sementara buku-buku itu tidak boleh dijual. Penjual bukunya kmai minta untuk hati-hati. Jangan sampai ada upaya menyebarkan paham komunisme," tuturnya.


Kak Seto Khawatir Kebiri Bikin Penjahat Seksual Jadi Beringas

Kak Seto Khawatir Kebiri Bikin Penjahat Seksual Jadi Beringas


Psikolog dan pemerhati masalah anak, Seto Mulyadi mengharapkan pemerintah untuk merevisi undang-undang terkait perlindungan anak ketimbang mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Hukuman Kebiri bagi pelaku kejahatan seksual.
"Saya lebih senang bila pemerintah merevisi undang-undang," ujar Kak Seto saat berbincang dengan Okezone, Rabu (11/5/2016).
Kak Seto beralasan pemerintah terlalu terburu-buru bila mengeluarkan Perppu Hukuman Kebiri. Menurutnya, hukuman kebiri hanya mematikan hasrat seksual bagi pelaku kejahatan seksual seperti pemerkosaan.
Sebaliknya, pelaku dikhawatirkan akan menjadi lebih berbahaya dan beringas bila masih memiliki rasa dendam karena alat vitalnya sudah dikebiri. Rasa dendam yang berlebihan ini ditakutkan dapat membuat pelaku bertindak lebih kejam dan berbahaya kepada korbannya.

"Kalau dikebiri ini membuat dia jadi punya rasa dendam karena diputus kemampuan seksualnya. Kemudian dia bisa jadi melakukan tindakan pemerkosaan yang lebih sadis dengan cara-cara lain. Nah, ini justru akan bertambah parah karena ada rasa dendam di dalam dirinya dan sangat berbahaya bagi korban," ujarnya.
Ketimbang hukuman kebiri, Kak Seto lebih berharap pemerintah merevisi undang-undang dengan menambah atau memperberat hukuman terhadap pelaku kejahatan seksual.
"Mending diperlama saja hukumannya, misalnya minimal seumur hidup, mungkin bisa membuat orang lain berpikir seribu kali untuk melakukan kejahatan pemerkosaan atau sebagainya itu," katanya.
Untuk itu, Kak Seto juga meminta para wakil rakyat untuk memperhatikan masalah tersebut. Mereka sebagai perumus atau pihak yang merevisi undang-undang juga harus bekerja cepat sehingga revisi undang-undang tentang perlindungan anak dapat segera terwujud.
"Revisi UU ini harus menjadi perhatian semua pihak, termasuk para pemangku kepentingan di legislatif," pungkasnya.

Selasa, 22 Maret 2016

Suprat, Pensiunan Guru SD Piawai Mendongeng Ala Stand Up


USIA senja bukan menjadi penghalang Suprat (70), warga Dukuh Pangkalan Desa Tugu, Kecamatan Sayung, Demak menjelajah dari satu sekolah ke sekolah lainnya untuk mendongeng. Bahkan pensiunan guru SD 1 Tugu ini masih bersuara lantang ketika mengisahkan berbagai dongeng di depan puluhan siswa. Berbekal ”kotak ajaib” berisi alat peraga mendongeng, pria yang akrab disapa Mbah Semprot ini selalu berhasil membuat para penontonnya terhibur. Dalam setiap penampilannya, suami Tatik Rumiyati (63) ini mampu berimprovisasi ibarat komedian ala stand up. ”Kalau sekarang mungkin istilahnya stand up comedy. Pak Suprat ini sudah lebih dari 100 kali tampil mendongeng di berbagai sekolah,” kata Bambang Setiadi, yang juga sepupu Suprat. Benar saja, bapak tiga anak ini dapat membuat tertawa siswasiswi ketika diminta tampil di SD 1 Tugu. Mimik muka yang mampu menirukan berbagai ekspresi dan luwes menari membuat penampilan Mbah Suprat mendapat sanjungan. Kepala SD 1 Tugu, Danu Maryoto mengatakan, kebiasaan mendongeng Mbah Suprat ini dapat menjadi metode pembelajaran yang menyenangkan di sekolah. Apalagi kegiatan bercerita saat ini semakin jarang dilakukan oleh para tenaga pendidik. ”Di sekolah ini sudah menerapkan pembelajaran dengan metode Pakem, Paikem maupun Paikem Gembrot yang intinya mendorong siswa agar aktif, senang dan kreatif di kelas,” ujarnya. Mbah Suprat sendiri, membiasakan mendongeng di depan kelas ketika dirinya masih aktif mengajar sebelum akhirnya pensiun pada 2006. Ia mengaku keterampilan mendongeng dipelajarinya secara otodidak. Baca Koran Hanya saja, kakek tiga cucu ini rajin membaca koran, buku dan menyimak berita di televisi untuk menambah bahan cerita dongeng. Hingga kini pun, Suprat yang diangkat sebagai PNS guru pada 1968 masih rajin mengkliping koran Suara Merdeka. Klipingannya tidak hanya seputar tulisan dongeng tapi juga artikel dari orang-orang yang sukses di bidangnya masing-masing sebagai bacaan motivasi. Menurut Mbah Suprat, guru yang membiasakan mendongeng sama saja memberi kesempatan peserta didiknya mengimajinasikan cerita yang didongengkan kepada mereka. Pada kesempatan itu, mereka lebih terdorong untuk mendengarkan dan mengikuti pembelajaran secara maksimal. Meski begitu, ia tetap melihat situasi kapan dirinya mendongengkan cerita di depan kelas. ”Biasanya setelah ujian sekolah agar anak terhibur dan tidak stres memikirkan hasilnya,” ungkap pria yang telah 160 kali tampil mendongeng di sekolah-sekolah. Kepiawaian mendongeng Mbah Suprat tersebar dari mulut ke mulut. Bahkan suatu kali ketika dirinya menjadi pengawas silang saat ujian nasional, dirinya pernah diminta pihak sekolah untuk menghibur siswa kelas IV di sekolah tersebut. Mbah Suprat selalu menyediakan buku agar dibubuhi keterangan, tanda tangan serta stempel dari pihak yang mengundangnya untuk mendongeng. Kepuasan rasa menjadi nilai utama Mbah Suprat ketika diminta tampil oleh berbagai sekolah. ”Saya juga pernah diundang oleh SD di Kota Semarang, Kabupaten Kendal sampai Grobogan. Setiap tanggal 17 Agustus, pihak desa meminta saya mementaskan drama,” ungkapnya seraya tersenyum. (Lintang-23/03/16)

Senin, 21 Maret 2016

MENGAKU WARTAWAN, PENIPU DI TANGKAP

SEMARANG – Berkeinginan menjadi sepasang anggota polisi sekaligus wartawan, membuat Rijal Wijaya (23), warga Kampung Siwalan, Gayamsari menghalalkan segala cara untuk mengejar obsesinya itu.
Hingga akhirnya pria yang berprofesi sebagai jasa service AC tersebut digelandang ke Mapolrestabes untuk mempertangungjawabkan perbuatannya itu.
Aksi tipu-tipu yang dilakukan Rijal terbongkar setelah Tim Elang Polrestabes Semarang curiga dengan gerak-gerik pria lulusan SMP tersebut yang saat itu ikut melakukan operasi rutin dengan mengenakan kaos berulis Turn Back Crime Kriminal Umum Polda Jateng ala anggota Polri itu.
”Saya sudah curiga dari awal, ada yang tidak beres dengan pria itu, tapi sengaja saya biarkan lebih dahulu” ungkap Ketua Tim Elang II, Ipda Tony, Sabtu (19/3) sekitar pukul 01.30. Hingga, lanjut dia, saat timnya tiba di bantaran Sungai Banjirkanal Barat, dia sengaja berhenti.
Bukan untuk melakukan penindakan terhadap beberapa warga yang masih berada di lokasi tersebut, namun untuk meminta keterangan kepada Rijal. Saat ditanya, pria tersebut ternyata mengaku sebagai wartawan Trans7 yang sedang bertugas meliput kegiatan tim Elang.
Koresponden Trans7
Namun, hal itu membuat kecurigaan Tony bertambah sebab, wartawan koresponden Trans7 wilayah Jawa Tengah, Damar Sinuko ikut dalam rombongannya. ”Saat itu langsung saja saya pertemukan dengan wartawan Trans7 yang asli,” ujarnya. Pertemuan itu, membuat Rijal tak mampu berkata apa pun hingga dia pasrah dan mengakui kalau dia adalah wartawan dan polisi gadungan.
Meski begitu, dia masih sempat menyebut pernah bekerja di sejumlah media nasional. ”Iseng saja, supaya boleh ikut operasi terus ambil foto dan bisa di share di sosial media,” ungkap Rijal.
Dari informasi yang dihimpun diduga Rijal kerap mengaku sebagai anggota polisi kepada teman di media sosial. Untuk lebih lanjut, Rijal dibawa ke Mapolrestabes Semarang untuk dimintai keterangan lebih dalam. Adapun, untuk kaos yang merupakan atribut Polri langsung disita oleh petugas.
”Kaosnya kami sita karena itu atribut polisi, kecuali tidak ada tulisan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jateng dan tulisan polisinya, kaos Turn Back Crime boleh dipakai masyarakat,” jelasnya. Terkait temuan itu, lanjut dia, masih terus dikembangkan apakah ada ke arah kriminalitas dan apa motif pria tersebut melakukan hal tersebut. (K44, H74-72)

Tidak Tertib, Delapan Babinsa Dihukum Push Up

DEMAK -  Sebanyak delapan anggota Bintara Pembina Desa (Babinsa) di lingkungan Koramil Mranggen menjalani hukuman disiplin berupa push up. Pasalnya, mereka kedapatan tidak merawat sepeda motor Yamaha New Vixion yang menjadi kendaraan dinas.
Danramil Mranggen, Kapten Utomo mengatakan, cek kendaraan tersebut diikuti sekitar 19 Babinsa. Kegiatan ini bagian dari penegakkan disiplin anggota dalam berkendara motor.
“Kendaraan dinas ini baru diberikan tiga bulan lalu. Jadi sayang sekali, kalau ada anggota (Babinsa) yang membiarkan kondisi rantai sampai kering,” ujarnya didampingi Batuud Peltu Suharso, kemarin.
Selain kondisi sepeda motor, lanjutnya, sasaran razia ini juga menjangkau pemakaian helm berstandar dan kelengkapan  surat-surat berkendara. Beberapa anggota Babinsa masih didapati menggunakan helm dinas yang tidak sesuai standar.
Padahal bersamaan pemberian kendaraan dinas baru itu, mereka juga diberi helm sesuai dinas. Karena itu, ia menyayangkan sikap Babinsa yang kurang mengindahkan kepatuhan dalam mengendarai kendaraan dinas.
Rawat Kendaraan
Pada kesempatan itu, ia menegaskan seluruh Babinsa harus bisa merawat kendaraan dinas sebaik mungkin.  Kendaraan dinas yang terawat dengan baik nantinya, imbuh dia, masa usia pakai bisa lama. Selain itu, jika mereka sudah memasuki masa purna tugas, kendaraan dinas itu bisa digunakan oleh anggota lainnya.
TNI, lanjutnnya, dalam menjalankan tugas dan fungsinya mesti mendasarkan pada Sapta Marga. Tidak hanya melaksanakan tugas sesuai keterampilan di bidang masing-masing saja, tapi pula diikuti dengan kualitas moral yang tinggi agar dalam pelaksanaan tugas dapat terlaksana secara baik. (J9-72)

Kamis, 03 Maret 2016

HEBOH: Warga Tangkap Ular Bertanduk Dan Berkaki di Ponorogo





SEBUAH penemuan ular DENGAN Bentuk Aneh menggegerkan Warga Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.Berdasarkan Laman facebook Radio Patria, Seorang Warga di sana Menangkap Seekor ular Yang memiliki tanduk Dan berkaki.
"# InfoPatria ► Djoni through WhatsApp Berbagi information Kami di 081334256xxx menginformasikan temuan Sepasang ular Aneh di Bendungan Bendo Sawoo di Ponorogo," tulis Laman tersebut, Rabu (3/3).
Kedua ular ITU bertanduk. Sedangkan Yang jantan mempunyai kesemek Dan Yang betina tak mempunyai kesemek.
Tak pelak ular tersebut MEMBUAT HEBOH netizen. Tanggapan Beragam pun dilontarkan.
(BACA: Ternyata Kabar Penemuan Ular Bertanduk ITU Hoax!)
"Itu Bukan ular mungkin siluman," tulis komentar pemilik akun Ozhye theprince OfBlackparadise.
"Itu ular asli APA ular jadi2an.? Kok Aneh ADA menumbuhkan tanduknya kaya di Film horor aja, "tulis Wahyu Nurcholifah. (Mas / JPNN)

Selasa, 16 Februari 2016

Menteri Anies Akan Masukkan Muatan Budaya Lokal ke Kurikulum Baru



Mendikbud Anies Baswedan memberikan gambaran mengenai kurikulum baru yang sedang digagasnya. Dia akan memasukkan muatan budaya masing-masing daerah dalam porsi yang cukup.

"Sekarang ini ada perubahan kurikulum, dan perubahan kurikulum tidak semua bahan dimasukkan ke situ. Sebab anak kita bukan seperti cendawan yang berisi segala macam. Tetapi kita akan memberikan ruang yang cukup pada ekspresi lokal dan pada budaya seluruh nusantara agar pendidikan kita bukan penyeragaman," ujar Anies di Yogyakarta, Sabtu (14/2/2015).

Anies mengatakan, pendidikan memberikan ruang untuk tumbuhnya sikap kreasi dan munculnya produktifitas. Jadi tujuan mendidik bukan hanya sekedar menghasilkan lulusan dan ilmuwan.

"Tapi menghasilkan manusia baru yang bisa hidup mandiri dan bisa mengelola kekayaan budaya lokal. Jadi mumpung kita lagi ada perbaikan, nanti kita akan masukkan di situ," pungkas dia.