Selasa, 22 Maret 2016

Suprat, Pensiunan Guru SD Piawai Mendongeng Ala Stand Up


USIA senja bukan menjadi penghalang Suprat (70), warga Dukuh Pangkalan Desa Tugu, Kecamatan Sayung, Demak menjelajah dari satu sekolah ke sekolah lainnya untuk mendongeng. Bahkan pensiunan guru SD 1 Tugu ini masih bersuara lantang ketika mengisahkan berbagai dongeng di depan puluhan siswa. Berbekal ”kotak ajaib” berisi alat peraga mendongeng, pria yang akrab disapa Mbah Semprot ini selalu berhasil membuat para penontonnya terhibur. Dalam setiap penampilannya, suami Tatik Rumiyati (63) ini mampu berimprovisasi ibarat komedian ala stand up. ”Kalau sekarang mungkin istilahnya stand up comedy. Pak Suprat ini sudah lebih dari 100 kali tampil mendongeng di berbagai sekolah,” kata Bambang Setiadi, yang juga sepupu Suprat. Benar saja, bapak tiga anak ini dapat membuat tertawa siswasiswi ketika diminta tampil di SD 1 Tugu. Mimik muka yang mampu menirukan berbagai ekspresi dan luwes menari membuat penampilan Mbah Suprat mendapat sanjungan. Kepala SD 1 Tugu, Danu Maryoto mengatakan, kebiasaan mendongeng Mbah Suprat ini dapat menjadi metode pembelajaran yang menyenangkan di sekolah. Apalagi kegiatan bercerita saat ini semakin jarang dilakukan oleh para tenaga pendidik. ”Di sekolah ini sudah menerapkan pembelajaran dengan metode Pakem, Paikem maupun Paikem Gembrot yang intinya mendorong siswa agar aktif, senang dan kreatif di kelas,” ujarnya. Mbah Suprat sendiri, membiasakan mendongeng di depan kelas ketika dirinya masih aktif mengajar sebelum akhirnya pensiun pada 2006. Ia mengaku keterampilan mendongeng dipelajarinya secara otodidak. Baca Koran Hanya saja, kakek tiga cucu ini rajin membaca koran, buku dan menyimak berita di televisi untuk menambah bahan cerita dongeng. Hingga kini pun, Suprat yang diangkat sebagai PNS guru pada 1968 masih rajin mengkliping koran Suara Merdeka. Klipingannya tidak hanya seputar tulisan dongeng tapi juga artikel dari orang-orang yang sukses di bidangnya masing-masing sebagai bacaan motivasi. Menurut Mbah Suprat, guru yang membiasakan mendongeng sama saja memberi kesempatan peserta didiknya mengimajinasikan cerita yang didongengkan kepada mereka. Pada kesempatan itu, mereka lebih terdorong untuk mendengarkan dan mengikuti pembelajaran secara maksimal. Meski begitu, ia tetap melihat situasi kapan dirinya mendongengkan cerita di depan kelas. ”Biasanya setelah ujian sekolah agar anak terhibur dan tidak stres memikirkan hasilnya,” ungkap pria yang telah 160 kali tampil mendongeng di sekolah-sekolah. Kepiawaian mendongeng Mbah Suprat tersebar dari mulut ke mulut. Bahkan suatu kali ketika dirinya menjadi pengawas silang saat ujian nasional, dirinya pernah diminta pihak sekolah untuk menghibur siswa kelas IV di sekolah tersebut. Mbah Suprat selalu menyediakan buku agar dibubuhi keterangan, tanda tangan serta stempel dari pihak yang mengundangnya untuk mendongeng. Kepuasan rasa menjadi nilai utama Mbah Suprat ketika diminta tampil oleh berbagai sekolah. ”Saya juga pernah diundang oleh SD di Kota Semarang, Kabupaten Kendal sampai Grobogan. Setiap tanggal 17 Agustus, pihak desa meminta saya mementaskan drama,” ungkapnya seraya tersenyum. (Lintang-23/03/16)

Senin, 21 Maret 2016

MENGAKU WARTAWAN, PENIPU DI TANGKAP

SEMARANG – Berkeinginan menjadi sepasang anggota polisi sekaligus wartawan, membuat Rijal Wijaya (23), warga Kampung Siwalan, Gayamsari menghalalkan segala cara untuk mengejar obsesinya itu.
Hingga akhirnya pria yang berprofesi sebagai jasa service AC tersebut digelandang ke Mapolrestabes untuk mempertangungjawabkan perbuatannya itu.
Aksi tipu-tipu yang dilakukan Rijal terbongkar setelah Tim Elang Polrestabes Semarang curiga dengan gerak-gerik pria lulusan SMP tersebut yang saat itu ikut melakukan operasi rutin dengan mengenakan kaos berulis Turn Back Crime Kriminal Umum Polda Jateng ala anggota Polri itu.
”Saya sudah curiga dari awal, ada yang tidak beres dengan pria itu, tapi sengaja saya biarkan lebih dahulu” ungkap Ketua Tim Elang II, Ipda Tony, Sabtu (19/3) sekitar pukul 01.30. Hingga, lanjut dia, saat timnya tiba di bantaran Sungai Banjirkanal Barat, dia sengaja berhenti.
Bukan untuk melakukan penindakan terhadap beberapa warga yang masih berada di lokasi tersebut, namun untuk meminta keterangan kepada Rijal. Saat ditanya, pria tersebut ternyata mengaku sebagai wartawan Trans7 yang sedang bertugas meliput kegiatan tim Elang.
Koresponden Trans7
Namun, hal itu membuat kecurigaan Tony bertambah sebab, wartawan koresponden Trans7 wilayah Jawa Tengah, Damar Sinuko ikut dalam rombongannya. ”Saat itu langsung saja saya pertemukan dengan wartawan Trans7 yang asli,” ujarnya. Pertemuan itu, membuat Rijal tak mampu berkata apa pun hingga dia pasrah dan mengakui kalau dia adalah wartawan dan polisi gadungan.
Meski begitu, dia masih sempat menyebut pernah bekerja di sejumlah media nasional. ”Iseng saja, supaya boleh ikut operasi terus ambil foto dan bisa di share di sosial media,” ungkap Rijal.
Dari informasi yang dihimpun diduga Rijal kerap mengaku sebagai anggota polisi kepada teman di media sosial. Untuk lebih lanjut, Rijal dibawa ke Mapolrestabes Semarang untuk dimintai keterangan lebih dalam. Adapun, untuk kaos yang merupakan atribut Polri langsung disita oleh petugas.
”Kaosnya kami sita karena itu atribut polisi, kecuali tidak ada tulisan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jateng dan tulisan polisinya, kaos Turn Back Crime boleh dipakai masyarakat,” jelasnya. Terkait temuan itu, lanjut dia, masih terus dikembangkan apakah ada ke arah kriminalitas dan apa motif pria tersebut melakukan hal tersebut. (K44, H74-72)

Tidak Tertib, Delapan Babinsa Dihukum Push Up

DEMAK -  Sebanyak delapan anggota Bintara Pembina Desa (Babinsa) di lingkungan Koramil Mranggen menjalani hukuman disiplin berupa push up. Pasalnya, mereka kedapatan tidak merawat sepeda motor Yamaha New Vixion yang menjadi kendaraan dinas.
Danramil Mranggen, Kapten Utomo mengatakan, cek kendaraan tersebut diikuti sekitar 19 Babinsa. Kegiatan ini bagian dari penegakkan disiplin anggota dalam berkendara motor.
“Kendaraan dinas ini baru diberikan tiga bulan lalu. Jadi sayang sekali, kalau ada anggota (Babinsa) yang membiarkan kondisi rantai sampai kering,” ujarnya didampingi Batuud Peltu Suharso, kemarin.
Selain kondisi sepeda motor, lanjutnya, sasaran razia ini juga menjangkau pemakaian helm berstandar dan kelengkapan  surat-surat berkendara. Beberapa anggota Babinsa masih didapati menggunakan helm dinas yang tidak sesuai standar.
Padahal bersamaan pemberian kendaraan dinas baru itu, mereka juga diberi helm sesuai dinas. Karena itu, ia menyayangkan sikap Babinsa yang kurang mengindahkan kepatuhan dalam mengendarai kendaraan dinas.
Rawat Kendaraan
Pada kesempatan itu, ia menegaskan seluruh Babinsa harus bisa merawat kendaraan dinas sebaik mungkin.  Kendaraan dinas yang terawat dengan baik nantinya, imbuh dia, masa usia pakai bisa lama. Selain itu, jika mereka sudah memasuki masa purna tugas, kendaraan dinas itu bisa digunakan oleh anggota lainnya.
TNI, lanjutnnya, dalam menjalankan tugas dan fungsinya mesti mendasarkan pada Sapta Marga. Tidak hanya melaksanakan tugas sesuai keterampilan di bidang masing-masing saja, tapi pula diikuti dengan kualitas moral yang tinggi agar dalam pelaksanaan tugas dapat terlaksana secara baik. (J9-72)

Kamis, 03 Maret 2016

HEBOH: Warga Tangkap Ular Bertanduk Dan Berkaki di Ponorogo





SEBUAH penemuan ular DENGAN Bentuk Aneh menggegerkan Warga Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.Berdasarkan Laman facebook Radio Patria, Seorang Warga di sana Menangkap Seekor ular Yang memiliki tanduk Dan berkaki.
"# InfoPatria ► Djoni through WhatsApp Berbagi information Kami di 081334256xxx menginformasikan temuan Sepasang ular Aneh di Bendungan Bendo Sawoo di Ponorogo," tulis Laman tersebut, Rabu (3/3).
Kedua ular ITU bertanduk. Sedangkan Yang jantan mempunyai kesemek Dan Yang betina tak mempunyai kesemek.
Tak pelak ular tersebut MEMBUAT HEBOH netizen. Tanggapan Beragam pun dilontarkan.
(BACA: Ternyata Kabar Penemuan Ular Bertanduk ITU Hoax!)
"Itu Bukan ular mungkin siluman," tulis komentar pemilik akun Ozhye theprince OfBlackparadise.
"Itu ular asli APA ular jadi2an.? Kok Aneh ADA menumbuhkan tanduknya kaya di Film horor aja, "tulis Wahyu Nurcholifah. (Mas / JPNN)